Once upon a time, ada seorang astronom, yang entah bagaimana jalan pikirannya, sampai bisa membuat desain gitar berwarna merah, berbodi gitar akustik. Bersama, ayahnya, dia mewujudkan gambaran sang astronom menjadi kenyataan. Dengan kayu-kayu dari rak bukunya, dari mejanya, dari pedal sepeda, dan dari jarum rajut milik ibunya, terciptalah sebuah gitar merah impian astronom tersebut. Tapi, tanpa disangka, gitar itu mempunyai keanehan: suaranya paling berbeda dari gitar-gitar listrik lainnya. Sejak saat itulah, suara gitar itu menjadi ciri khas. Semua pasti tahu, jika suara gitar itu terdengan, pasti Brian Harold May-lah yang memainkannya.
Di sekolahnya, Brian berteman dengan seorang adik kelasnya, calon dokter. Kebetulan, saat itu Brian yang sedang mencari drumer, menemukan bahwa teman nongkrongnya dapat memainkan drum dengan bagus. Lalu, Brian dan Roger Meddows Taylor, sepakat membentuk band, dengan nama Smile. Dengan vokal dan bass dipegang oleh kenalan mereka, Tim Staffel. Sayang, hidup band itu tidaklah lama, dan hanya menelurkan satu album.
Parahnya, pada tahun 1971, Tim mengundurkan diri. Maka, hancurlah optimisme mereka. Untungnya, Tim mempunyai kenalan jauh dari Zanzibar. Maka, dipanggillah teman Tim itu, untuk menggantikannya sebagai vokal. Teman Tim itu memang eksentrik, namun mempunyai idola yang sama dengan Brian dan Roger. Jadilah mereka sati tim, sebagai sahabat. Vokalis baru itu memang mempunyai seni yang tinggi. Farrokh Bulsara,, atau Freddie Bulsara, menerima gelar di bidang desain grafis dan ilustrasi. Perpaduan yang keren: dokter, desainer, astronom. Tapi, ada yang kurang. Yep, bassis.
Maka, mereka mencari kesana-sini. Sampai suatu hari ditemukanlah seorang insinyur permesinan. Saat itu, dia masih kuliah. Dan dialah yang termuda. Dan, karena satu selera, diterimalah John Richard Deacon sebagai bassis.
Dimulailah karir mereka, sebagai grup band rock bernama Queen, seperti yang diusulkan Freddie.
Setelah menelurkan beberapa hits, namun tidak terlalu bombastis, seperti Keep yourself Alive, Liar, The Seven Seas of Rhye, Now I'm Here, Brighton Rock, dan Killer Queen (pengecualian untuk yang satu ini), maka, dimulailah penelitian Freddie pada opera. Lalu, dia mulai mengarang lagu, dan dia tulis di notes tua milik ayahnya. Riset sana-sini, terciptalah sebuah cikal bakal lagu yang menggemparkan dunia rock. Yakin dengan karangannya, Freddie membawa karangannya ke studio, untuk ditunjukkan kepada 3 temannya.Melotot melihat not-not rumit yang dikarang vokalis sekaligus pianis mereka, mereka mewujutkan karangan itu menjadi nyata. Dimulailah proses rekaman musik rock opera tersebut. Dua minggu telah berlalu, setengah lagu pun telah jadi. Tinggal satu yang tertinggal, bagian yang paling rumit: opera. Seminggu mereka habiskan untuk menyusunnya, menyanyikannya. Setiap hari, mereka datang ke studio untuk merekam suara mereka, selama seminggu penuh itu, untuk menghidupkan "opera" karya vokalis. Lalu, mereka mulai menggabungkan 120 vokal latar yang telah mereka rekam di mesin rekam 24 trek. Dan lagu yang dikomandoni tunggal oleh sang vokalis akhirnya selesai hanya dalam waktu 3 minggu. Sempat pesimis juga mereka, saat melihat durasi lagunya yang nyaris 6 menit. Namun, takdir terbalik dengan pikiran mereka. Lagu itu menjelma menjadi magnum opus, hits yang melegenda, serta yang disegani. Konon, banyak musisi yang ciut saat lagu ini rilis.
Queen melanjutkan hidupnya. Dengan menelurkan hit-hit melegenda. Selama 3 dekade, mereka merajai tangga chart.
Suatu hari, Freddie mendatangi ke3 temannya, dan mengaku bahwa sebenarnya dia adalah seoranh homoseks, dan terkena AIDS. Membekulah mereka semua. Konflik diantara mereka yang mulai berkembang pun lenyap begitu saja. Mereka berusaha melindungi Freddie, bahkan sampai berbohong kepad orang toa mereka sendiri.
Akhirnya, pada tanggal 24 November 1991, Freddie menginggal dunia di kediamannya. Dan untuk mengenangnya, dibangunlah monumen Freddie Mercury di Montreux...
Di sekolahnya, Brian berteman dengan seorang adik kelasnya, calon dokter. Kebetulan, saat itu Brian yang sedang mencari drumer, menemukan bahwa teman nongkrongnya dapat memainkan drum dengan bagus. Lalu, Brian dan Roger Meddows Taylor, sepakat membentuk band, dengan nama Smile. Dengan vokal dan bass dipegang oleh kenalan mereka, Tim Staffel. Sayang, hidup band itu tidaklah lama, dan hanya menelurkan satu album.
Parahnya, pada tahun 1971, Tim mengundurkan diri. Maka, hancurlah optimisme mereka. Untungnya, Tim mempunyai kenalan jauh dari Zanzibar. Maka, dipanggillah teman Tim itu, untuk menggantikannya sebagai vokal. Teman Tim itu memang eksentrik, namun mempunyai idola yang sama dengan Brian dan Roger. Jadilah mereka sati tim, sebagai sahabat. Vokalis baru itu memang mempunyai seni yang tinggi. Farrokh Bulsara,, atau Freddie Bulsara, menerima gelar di bidang desain grafis dan ilustrasi. Perpaduan yang keren: dokter, desainer, astronom. Tapi, ada yang kurang. Yep, bassis.
Maka, mereka mencari kesana-sini. Sampai suatu hari ditemukanlah seorang insinyur permesinan. Saat itu, dia masih kuliah. Dan dialah yang termuda. Dan, karena satu selera, diterimalah John Richard Deacon sebagai bassis.
Dimulailah karir mereka, sebagai grup band rock bernama Queen, seperti yang diusulkan Freddie.
Setelah menelurkan beberapa hits, namun tidak terlalu bombastis, seperti Keep yourself Alive, Liar, The Seven Seas of Rhye, Now I'm Here, Brighton Rock, dan Killer Queen (pengecualian untuk yang satu ini), maka, dimulailah penelitian Freddie pada opera. Lalu, dia mulai mengarang lagu, dan dia tulis di notes tua milik ayahnya. Riset sana-sini, terciptalah sebuah cikal bakal lagu yang menggemparkan dunia rock. Yakin dengan karangannya, Freddie membawa karangannya ke studio, untuk ditunjukkan kepada 3 temannya.Melotot melihat not-not rumit yang dikarang vokalis sekaligus pianis mereka, mereka mewujutkan karangan itu menjadi nyata. Dimulailah proses rekaman musik rock opera tersebut. Dua minggu telah berlalu, setengah lagu pun telah jadi. Tinggal satu yang tertinggal, bagian yang paling rumit: opera. Seminggu mereka habiskan untuk menyusunnya, menyanyikannya. Setiap hari, mereka datang ke studio untuk merekam suara mereka, selama seminggu penuh itu, untuk menghidupkan "opera" karya vokalis. Lalu, mereka mulai menggabungkan 120 vokal latar yang telah mereka rekam di mesin rekam 24 trek. Dan lagu yang dikomandoni tunggal oleh sang vokalis akhirnya selesai hanya dalam waktu 3 minggu. Sempat pesimis juga mereka, saat melihat durasi lagunya yang nyaris 6 menit. Namun, takdir terbalik dengan pikiran mereka. Lagu itu menjelma menjadi magnum opus, hits yang melegenda, serta yang disegani. Konon, banyak musisi yang ciut saat lagu ini rilis.
Queen melanjutkan hidupnya. Dengan menelurkan hit-hit melegenda. Selama 3 dekade, mereka merajai tangga chart.
Suatu hari, Freddie mendatangi ke3 temannya, dan mengaku bahwa sebenarnya dia adalah seoranh homoseks, dan terkena AIDS. Membekulah mereka semua. Konflik diantara mereka yang mulai berkembang pun lenyap begitu saja. Mereka berusaha melindungi Freddie, bahkan sampai berbohong kepad orang toa mereka sendiri.
Akhirnya, pada tanggal 24 November 1991, Freddie menginggal dunia di kediamannya. Dan untuk mengenangnya, dibangunlah monumen Freddie Mercury di Montreux...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar